|
title : ♥Tujuh huruf terkutuk: SKRIPSI
posted : Thursday, May 10, 2012
Skripsi.
Tujuh huruf—ehem—terkutuk, yang pasti akan dibuat oleh mahasiswa/i universitas manapun yang ada di belahan dunia manapun. Walaupun terkadang mungkin, ada fakultas-fakultas tertentu yang menyebut syarat kelulusan yang satu ini berbeda—ada yang menamakannya 'Tugas Akhir' alias TA—namun tetap saja, mungkin ini satu bagian yang membuat mahasiswa/i manapun bisa merasa stres dalam waktu seketika. Semester akhir itu memang neraka, terutama ketika teringat akan kewajiban untuk membuat tujuh huruf terkutuk tersebut sebagai syarat kelulusan. Yah, mungkin ada kata-kata yang akan selalu menemani setiap kali berteman dengan tujuh huruf tersebut. Misalnya, kata 'revisi', kata 'usulan penelitian', kata 'kuisioner', kata 'pembimbing' dan terakhir yang paling keren, 'sidang'. Dan saya kini adalah orang yang saat ini sedang berada di fase tersebut. Saya masih semester enam. Normalnya, semester enam itu masih dinikmati oleh mahasiswa/i perguruan tinggi lain untuk belajar biasa yang mengerjakan tugas. Tapi, semester enam di universitas saya, buat skripsi pada semester segitu itu sudah biasa. Saya mahasiswa strata satu kok, bukan mahasiswa diploma. Lucu juga ya, disaat mahasiswa diploma tiga seangkatan saya mulai menyusun TA untuk kelulusan, saya yang strata satu juga sudah mulai menyusun skripsi untuk kelulusan. Kesannya, lulus diploma tiga dan lulus strata satu itu waktu tempuhnya sama saja. Rata-rata, mahasiswa seangkatan saya akan mulai menyusun skripsi di semester tujuh. Tapi tidak di tempat saya. Mengambil sks penuh 24 sks tiap semester itu biasa. Mungkin kalau di universitas lain, mengambil sks penuh itu penuh risiko dan melelahkan—sependengaran saya sih, kalau di universitas lain itu mengenal asistensi dan sejenisnya, sehingga waktu kuliahnya banyak habis terpakai dan mengambil 24 sks melelahkan. Kalau di tempat saya, tidak mengambil penuh—buat apa? Waktu longgar, tugas tidak banyak. Yah, maklumlah. Kampus saya kan tidak sehebat dan seternama kampus lainnya. Dan kembali ke topik skripsi. Sumpah, saat ini saya benar-benar stres dengan tujuh huruf terkutuk tersebut. Kekhawatiran dengan kekhawatiran silih berganti datang menghampiri. Fakultas saya mengenal seminar UP ketika sudah menyelesaikan bab 3. Ketika satu per satu teman saya mulai mengikuti seminar UP dan saya tertinggal, saya merasa resah. Ketika dapat pembimbing, dan pembimbingnya menyuruh saya untuk langsung seminar, lagi-lagi saya galau. Saya belum siap—ceritanya. Dan mungkin, ada pikiran-pikiran yang mulai menghantui. Bagaimana kalau nanti ternyata banyak revisi? Bagaimana kalau nanti banyak sekali harus ditambahkan dan direvisi? Kalau kuisionernya lama diisinya bagaimana? Bagaimana nanti ngolah datanya? Bagaimana nanti sidangnya? Kalau tidak bisa jawab, bingung mau jawab apa bagaimana? Belum lagi, kebijakan baru yang menyuruh mahasiswa membuat jurnal ilmiah yang dipublikasikan. Ah, stres. Jujur, pikiran saya itu belakangan banyak beralih ke Real Life. Walaupun fangirling tetap jalan, tapi tetap saja, pikiran skripsi terus menghantui. Ah, entahlah. Semoga saja saya bisa menjalani ini semua. Amin. |